Statistik Open Source

LaTeX adalah sebutan untuk word processor software seperti ms word namun berbeda dalam pemakaiannya. Jika ms word lebih kepada WYSIWYG (What You See Is What You Get), namun LaTeX lebih cenderung kepada WISIWIT (What I See Is What I Type). Perbedaan paradigma dasar ini yang membuat LaTeX “less popular” dikalangan akademisi, karena LaTeX memakai teks kosong dibandingkan misalkan ms word yang sudah memiliki format. Namun menurut saya yang sudah menggunakan LaTeX untuk submisi jurnal, jika dibandingkan oleh word, LaTeX memiliki appearance yang lebih ciamik dan saintifik. Selain plain text, LaTeX juga menggunakan dasar coding untuk memperoleh tulisan yang diinginkan. Penggunaan coding dan instalasi package inilah yang membutuhkan effort yang luar biasa. Apalagi LaTeX bukan barang jadi dan tinggal install saja, membutuhkan beberapa tahapan untuk bisa membuat LaTeX berjalan. Kesulitan lain adalah ketika ingin melakukan ekstraksi package, ada 2 cara dalam ekstraksi package yaitu online dan manual. Biasanya kesulitan yang dialami ketika menggunakan online adalah terputusnya koneksi proxy karena memakai random repositori ini dapat diatasi dengan memilih source mana yang akan dituju. Jika menggunakan cara manual, bisa masuk ke website CTAN dan melakukan download package mana yang dituju setelah itu membuat local repositori. Dengan sederet keribetan dalam menggunakan LaTeX akan terbayar dengan tampilan yang dihasilkan. Berikut contoh jurnal saya dengan menggunakan LaTeX.

\documentclass[jou]{apa6}
\usepackage{apacite}
\usepackage{amsfonts}
\usepackage{booktabs}
\usepackage{siunitx}
\usepackage{multirow}
\usepackage{csquotes}
\usepackage{caption}
\usepackage{graphicx}
\graphicspath{ {C:\My_Jobs\Flanker_Number\Latex} }
%\usepackage{float}
%\restylefloat{table}
\title{\Large{Performansi \textit{Executive Function} dan akurasi \textit{Working Memory} pada Tipe Kepribadian}}
\shorttitle{hartantopaud@unwidha.id}
\author{Hartanto}
\affiliation{Universitas Widya Dharma}
\note{hartantopaud@unwidha.id}

\abstract{\textit{\textbf{Abstract}: This psychophysic experiment built in three independent variables (personality, trial type and stimuli) with two dependent (RTs and Acc) of the executive function and working memory. The purpose of the study is to found the differences between executive function performance and working memory accuracy through the types of personality. Data were analyzed using three-way ANOVA. The result reveals that: 1) Extrovert needed few RTs than introvert (p value = $0.03$). 2) In trial type, there was a significantly different effect RTs between congruent and incongruent (p value = $0.02$). 3) In accuracy analysis, incongruent trial considered to have lower accuracy comparing to the congruent trial (p-value = $0.003$). 1) Differences of character, extrovert personality has a tendency to seek the challenge and overcome the problem as fast as they could. 2) The tehnique, extrovert subject reveal that they not memorize all the instruction only partially, in contrast with introvert subject. The only way extrovert executive function could surpass the introvert counterpart was the effective and efficent tehnique that derive from its personality. In accuracy, all subjects concur that incongruent trial was difficult to memorize that congruent trial. After several trial runs, introvert subject starting to feel hesitancy about keypress linked to the correct answer. Moreover, almost introvert subject concern about the result, in contrast with extrovert subject.\\
Keyword : Executive Function, Working Memory, Cognitive Task}}

\rightheader{APA}
\leftheader{Hartanto}

\begin{document}
\maketitle
\setlength{\parindent}{5ex}
\setlength{\parskip}{1ex}

\begin{flushleft}
\section{Latar Belakang}
\end{flushleft}
\par
Fungsi eksekutif (\textit{executive function}) menjadi topik yang berkembang pesat belakangan ini dalam ranah Psikologi Kognitif dan Neurosains.
Berdasar telaah teori, \textit{executive function} merupakan suatu rangkaian dari kinerja kognitif dalam dinamika pengambilan keputusan. Termasuk juga bagian area kontrol kognitif. Fungsi eksekutif masuk dalam bidang \textit{neuropsychology} tepatnya pada kerja/fungsi otak (\textit{brain function}).
Fungsi eksekutif dianggap sebagai manifestasi kerja kognitif tingkat atas (\textit{high order cognitive}) karena melibatkan aspek-aspek kognitif seperti penalaran, perencanaan, prediksi dan melakukan kontrol \cite{niendam2012meta,herd2014neural}. Semua fitur kognitif tersebut berorientasi pada tujuan \textit{goal} \cite{luna2010has}. Sehingga melakukan pengukuran terhadap performa fungsi eksekutif sangat esensial karena secara tidak langsung akan mengeksplor tehnik individu dalam melakukan perencanaan dan bagaimana kognitif bekerja untuk memenuhi tujuan. Dalam skala lebih spesifik (setting lab), dapat untuk melihat determinasi individu dalam merespon stimulus yang berkaitan dengan intruksi (\textit{goal}).
\par
Berdasarkan beberapa riset, fungsi eksekutif juga berkaitan erat dengan akurasi \textit{working memory}. Korelasi yang muncul dari kapasitas \textit{working memory} dengan fungsi eksekutif terbilang tinggi dalam riset \cite{mccabe2010relationship}. Ini berarti performa fungsi eksekutif yang ditunjukkan dalam waktu reaksi memiliki korelasi positif dengan kapasitas  \textit{working memory} yang ditunjukkan dengan akurasi respon. Meskipun begitu, penelitian ini dapat memberikan kontribusi dan mengisi kajian riset mengenai topik \textit{working memory} dan fungsi eksekutif dalam konteks budaya yang berbeda. Budaya secara tidak langsung mempengaruhi orang untuk berperilaku dan berpikir \cite{shiraev2016cross}. Selain itu belum pernah ada penelitian yang mengupas mengenai fungsi eksekutif dan working memory dalam kaitannya terhadap tipe kepribadian.\\
\begin{flushleft}
\textit{Tipe kepribadian extrovert dan introvert}\\
\end{flushleft}
\par
Konsep tentang kepribadian sangat beragam melalui berbagai penelitian dan teori \cite{feist2008theories}. Jenis kepribadian pada dasarnya mempengaruhi seluruh kondisi manusia dalam berinteraksi dan berkolaborasi dengan lingkungan. Beberapa orang dengan latar belakang kepribadian extrovert lebih suka melakukan aktivitas diluar, bergaul dengan orang dari banyak lapisan. Sedangkan kepribadian introvert identik dengan perilaku indoor, berkutat dengan pemikiran dan ide. Walaupun secara original berasal dari seminar ide Carl Gustav Jung, namun perlu digaris bawahi bahwa, Jung hanya menjelaskan dan mempublish 2 tipe kepribadian yaitu extrovert dan introvert, sedangkan ambivert yang dewasa ini muncul setelah Jung mendefinisikan dan mengenalkan 2 tipe kepribadian diatas. Menurut asumsi peneliti, introvert akan mencetak waktu reaksi yang lebih cepat dibandingkan dengan tipe kepribadian ekstrovert, dimana kepribadian introvert lebih tahan akan fokus konsentrasi yang lama pada tugas yang diulang (\textit{repetitive task}). Selain itu kepribadian introvert disinyalir akan lebih tinggi akurasinya dibandingkan extrovert.
\par
Jenis kepribadian yang diambil dalam penelitian ini adalah tipe kepribadian introvert dan ekstrovert. Melakukan assesment kognitif berdasarkan cara individu bereaksi sangatlah penting untuk mengetahui cara tipe kepribadian tertentu dalam melakukan reaksi dan analisis dalam kognitifnya. Dalam papernya \cite{erton2010relations} menjelaskan perbedaan karakteristik kepribadian individu menjadi dasar penting dalam pendidikan bahasa dan penguasaan bahasa asing. Individu dengan jenis kepribadian extrovert misalnya memiliki ketertarikan dengan model pembelajaran diskusi dan FGD. Kepribadian dikatakan sangat penting dalam esensi manusia hidup, karena memiliki fungsi vital dalam menentukan aksi dan perilaku untuk menghadapi/mencari solusi dalam setiap masalah dengan melalui fungsi kognitif dan fungsi emosinya. Kondisi dan fungsi kognitif, dari uraian diatas, jelas memiliki pengaruh terhadap kepribadian individu. Beberapa penelitian pernah dilakukan dengan latar belakang fungsi kognitif dan tipe kepribadian \cite{hill2014personality}. Meskipun begitu mayoritas penelitian tersebut diatas memakai metode dan pendekatan yang sama sekali berbeda dengan pemelitian ini. Selain ingin melihat dan menjelaskan perbedaan dari fungsi eksekutif lintas tipe kepribadian, penelitian ini juga menggarisbawahi mengenai akurasi \textit{working memory} lintas kepribadian. Untuk mengetahui dinamika fungsi eksekutif dan \textit{working memory}, dilakukanlah modifikasi \textit{flanker task} dengan menambah kombinasi dari flanker stimulus (angka dan huruf). Dinamika antara stimulus angka dan huruf cukup menarik karena akan membuka penemuan baru terkait akan strategi atau cara individu merespon dan menyelesaikan tugas terkait dengan kepribadiannya. Melakukan modifikasi flanker merupakan cara umum untuk mengetahui kekomplekan stimulus dengan respon reaksi \cite{wells2009effects}.
\par
Beberapa penelitian mengenai \textit{flanker task} banyak dikembangkan dalam aras yang bervariasi seperti emotion recognition \cite{zhou2013attentional} dan pada tingkatan subjek yang berbeda juga \cite{stins2007conditional}. Mayoritas penelitian dalam \textit{flanker task} dan tugas kognitif lainnya melibatkan aspek latent yang sangat susah untuk diukur termasuk variabel fungsi eksekutif. Penyelidikan mendalam menggunakan \textit{flanker task} sebagai tugas kognitif dirasa penting untuk mengetahui dinamikanya dengan beberapa kombinasi variabel \cite{busemeyer2015oxford,hartanto2018rts}.
\section{Partisipan}
\par
Subjek penelitian terdiri dari $20$ orang dan dibedakan secara ekual antara individu dengan kepribadian mayoritas extrovert dan individu dengan kepribadian mayoritas introvert. Diagnosa pengelompokan dengan memakai skala ekstrovert-introvert \cite{grove2001}. Subjek juga diminta persetujuan sebelum diadakannya penelitian. Setelah dilakukan pengelompokan, eksperimen dilakukan dalam 1 kelas/ruangan eksperimen dan subjek masuk secara berurutan. Semua subjek dalam kondisi sehat (\textit{right handed}) dan tidak mengalami cacat apapun.
\section{Metode}
\par
Variabel penelitian terdiri dari dual stimulus flanker (\textit{leter vs number}), trial type (\textit{congruent vs incongruent}) dan jenis kepribadian (introvert vs exstrovert) sebagai variable independent dilanjutkan dengan waktu reaksi dan akurasi berperan sebagai variable dependen. Riset ini singkatnya terdiri dari 3 variabel bebas dan 2 variabel tergantung. Secara keseluruhan gambaran dari penelitian ini dapat dilihat dari tabel 1. Instrumen penelitian menggunakan 2 laptop/computer, satu skala Introvert-Extrovert dan dibantu dengan …. dan …. dan …. Instrumen penelitian adalah test flanker dengan dual stimulus yang diproduksi untuk mengambil data variabel executive function dan akurasi \textit{working memory}. Para subjek duduk menghadap monitor komputer dengan jarak $+30$ cm dan sebelum dimulai subjek diminta melihat dan memahami instruksi yang muncul di layar komputer. Setelah memahami dengan benar semua instruksinya maka subjek diminta untuk menekan tombol sesuai perintah atau intruksi yang sudah dipahami (“Z” dan “M” untuk target stimulus). Subjek juga diberi briefing mengenai seberapa banyak putaran diadakannya \textit{flanker task} untuk mengetahui perfomansi maksimal subjek. Skala penelitian diadaptasi ke bahasa Indonesia dari skala I-E Greg Grove. Skala ini terdiri dari 4 subtest yaitu : \textit{Thinking Introversion, Thinking Extroversion, Emotional Introversion} dan \textit{Emotional Extroversion}.
\section{Hasil}
\par
Dari katagorisasi skala I-E Scale diperoleh sebanyak 9 subjek memiliki dominasi karakteristik introvert dan 11 subjek dominasi karakteristik extrovert. Hasil didapatkan dengan menjumlahkan kutub extrovert (\textit{thinking} dan \textit{emotional}) dengan kutub introvert (\textit{thinking} dan \textit{emotional}). Analisis pertama difokuskan pada waktu reaksi. Analisis data Anova tiga jalur memperoleh hasil bahwa ada beda waktu reaksi dalam menyelesaikan tugas kognitif flanker task antara karakteristik subjek yang dominan dengan kepribadian ekstrovert dan introvert ($p = 0.03; p < 0.05$). Analisis Tukey memperoleh kesimpulan, bahwa waktu reaksi pada individu dengan tipe kepribadian ekstrovert lebih sedikit dibanding dengan individu yang dominan dengan tipe kepribadian introvert (diff = $294.6651$). Analisis dari jenis trial congruent dan incongruent diperoleh hasil nilai p = $0.02$, ($p<0.05$). Analisis Tukey, sesuai teori, menyimpulkan bahwa subjek dalam menyelesaikan incongruent trial membutuhkan lebih banyak waktu dibandingkan dengan congruent trial (diff = $320.7156$).
Namun tidak diperoleh hasil yang signifikan pada sub trial (number dan letter) serta dalam interaksi (see tabel 6). Analisis kedua mengenai akurasi diperoleh hasil signifikan pada level tipe trial ($p = 0.003; p<0.05$). Analisis Tukey diperoleh hasil bahwa tipe trial incongruent memiliki akurasi lebih rendah dibandingkan dengan tipe trial congruent, (diff = $-0.128$). Meskipun begitu tidak diperoleh hasil yang signifikan pada level tipe kepribadian, sub trial maupun interaksinya, sehingga tidak bisa memberikan kesimpulan antara akurasi jenis kepribadian dan sub tipe stimulus (number atau letter) mana yang lebih akurat. Berdasarkan hasil deskriptif antara tipe trial dengan akurasi diperoleh hasil yang sama.

\begin{table}[h!]
\caption{Formasi Variabel}
\label{tab:tabel1}
\begin{tabular}{c c c c}
\hline \hline
Sub Tipe & Tipe Trial & Kepribadian \\ \hline \hline
\multirow{4}{4em} {Letter} & \multirow{2}{*}{Congruent} & Extrovert \\ \cline{3-3}
& & Introvert \\ \cline{2-3}
& \multirow{2}{*}{Incongruent} & Extrovert \\ \cline{3-3} & & Introvert \\
\hline
\multirow{4}{4em} {Number} & \multirow{2}{*}{Congruent} & Extrovert \\ \cline{3-3}
& & Introvert \\ \cline{2-3}
& \multirow{2}{*}{Incongruent} & Extrovert \\ \cline{3-3} & & Introvert \\
\hline
\end{tabular}
\end{table}

\begin{table}[h!]
\caption{Mean Waktu Reaksi}
\label{tab:tabel2}
\begin{tabular}{c c c c}
\hline \hline
Kepribadian & Tipe Trial & Sub Trial & Mean \\  \hline \hline
\multirow{4}{4em} {Extrovert} & \multirow{2}{*}{Congruent} & Letter & $1324$ \\ \cline{3-4} & & Number & $1254$ \\ \cline{2-4}
& \multirow{2}{*} {Incongruent} & Letter & $1421$ \\ \cline{3-4} & & Number & $1360$ \\
\hline
\multirow{4}{4em} {Introvert} & \multirow{2}{*}{Congruent} & Letter & $1578$ \\ \cline{3-4} & & Number & $1102$ \\ \cline{2-4}
& \multirow{2}{*} {Incongruent} & Letter & $2140$ \\ \cline{3-4} & & Number & $1717$\\
\hline
\end{tabular}
\end{table}

\begin{table}[h!]
\caption{Mean Akurasi}
\label{tab:tabel3}
\begin{tabular}{c c c c}
\hline \hline
Kepribadian & Tipe Trial & Sub Trial & Mean \\  \hline \hline
\multirow{4}{4em} {Extrovert} & \multirow{2}{*}{Congruent} & Letter & $0.77$ \\ \cline{3-4} & & Number & $0.74$ \\ \cline{2-4}
& \multirow{2}{*} {Incongruent} & Letter & $0.59$ \\ \cline{3-4} & & Number & $0.63$ \\
\hline
\multirow{4}{4em} {Introvert} & \multirow{2}{*}{Congruent} & Letter & $0.71$ \\ \cline{3-4} & & Number & $0.89$ \\ \cline{2-4}
& \multirow{2}{*} {Incongruent} & Letter & $0.63$ \\ \cline{3-4} & & Number & $0.76$\\
\hline
\end{tabular}
\end{table}

\begin{table}[h!]
\caption{Frekuensi dan Persen}
\label{tab:tabel4}
\begin{tabular}{c c c}
\hline \hline
Label & Frekuensi & Persen \\
\hline
Extrovert & $352$ & $55$ \\
\hline
Introvert & $288$ & $45$ \\
\hline
Congruent & $320$ & $50$ \\
\hline
Incongruent & $320$ & $50$ \\
\hline
Congruent Letter & $160$ & $25$ \\
\hline
Incongruent Letter & $160$ & $25$ \\
\hline
Congruent Number & $160$ & $25$ \\
\hline
Incongruent Number & $160$ & $25$ \\
\hline
akurasi $(0)$ & $185$ & $28.91$ \\
\hline
akurasi $(1)$ & $445$ & $71.09$ \\
\hline
akurasi $(0)$ extro & $122$ & $17.5$ \\
\hline
akurasi $(0)$ intro & $73$ & $11.41$ \\
\hline
akurasi $(1)$ extro & $240$ & $37.5$ \\
\hline
akurasi $(1)$ intro & $215$ & $33.59$ \\
\hline
\end{tabular}
\end{table}

\begin{table}[h!]
\caption{Nilai Signifikansi Waktu Reaksi}
\label{tab:tabel5}
\begin{tabular}{c c }
\hline \hline
Variabel & Nilai P \\
\hline \hline
Kepribadian & $0.03$ \\
\hline
Tipe Trial & $0.02$ \\
\hline
Sub Trial & $0.23$ \\
\hline
Kepribadian:tipe trial & $0.08$ \\
\hline
Kepribadian:sub trial & $0.4$ \\
\hline
\end{tabular}
\end{table}

\begin{table}[h!]
\caption{Nilai Signifikansi Akurasi}
\label{tab:tabel6}
\begin{tabular}{c c }
\hline \hline
Variabel & Nilai P \\
\hline \hline
Kepribadian & $0.07$ \\
\hline
Tipe Trial & $0.00$ \\
\hline
Sub Trial & $0.12$ \\
\hline
Kepribadian:tipe trial & $0.53$ \\
\hline
Kepribadian:sub trial & $0.07$ \\
\hline
\end{tabular}
\end{table}

\begin{figure}[h]
\caption{Mean Waktu Reaksi}
\includegraphics[width=
\linewidth,height=0.6\textheight,keepaspectratio]{Mean_RT.jpg}
\end{figure}

\begin{figure}[h]
\caption{Mean Akurasi}
\includegraphics[width=
\linewidth,height=0.6\textheight,keepaspectrat]{Mean_Ak.jpg}
\end{figure}

\section{Diskusi}
\par
Penelitian ini menitik beratkan pada performa kecepatan fungsi eksekutif dalam bereaksi dan akurasi dalam menjawab tugas kognitif. Pada penelitian ini terdiri dari $9$ subjek introvert dan $11$ subjek extrovert. Dari hipotesis pertama diperoleh kesimpulan bahwa ada perbedaan antara subjek extrovert dan introvert dalam merespon tugas kognitif. Kepribadian merupakan wadah unik dari setiap individu yang mencakup cara berpikir (\textit{executive function}), merespon emosi dan berperilaku \cite{kumar2016exploring}. Subjek extrovert ternyata lebih cepat dalam merespon semua stimulus dalam eksperimen. Sesuai dengan tinjauan teori dimana individu dengan karakteristik mayoritas kepribadian extrovert lebih cepat dalam membuat keputusan, merespon se-efektif mungkin semua stimulus. Penelitian dari Yusoff dkk \cite{yusoff2016comparison} juga menambahkan bahwa karakter individu extrovert akan lebih menyukai test yang menegangkan (\textit{arousal test}) dibandingkan dengan individu dengan karakter ambivert. Karakter extrovert yang \textquote{berafiliasi} di outdoor atau ruangan luar cenderung lebih cepat melakukan kalkulasi mental dan re-afirmasi terhadap apa yang sedang dihadapi dan apapun modelnya \cite{nussbaum2002introverts}. Dimana sangat jauh berbeda dengan individu dengan mayoritas kepribadian introvert. Dari barplot error terlihat individu dengan kepribadian extrovert memiliki selisih waktu tidak terlalu banyak pada tipe congruent dan incongruent, namun individu dengan karakter introvert memiliki selisih waktu yang sangat banyak antara trial congruent dan incongruent. Ketika individu dengan mayoritas kepribadian introvert menemui stimulus yang berbeda dengan ekspektasinya (trial incongruent), individu itu akan melakukan check berulang untuk memastikan kondisi tersebut.
\par
Aspek keragu-raguan terlihat lebih besar muncul dalam karakter individu introvert. Ada perbedaan mendasar antara karakteristik kepribadian dalam merespon stimulus. Meskipun begitu, seharusnya dari sisi akurasi (berdasarkan tabel persentase akurasi), individu dengan karakter introvert akan lebih akurat namun ternyata individu dengan kepribadian extrovert lebih akurat sekitar $37.5\%$, namun juga memiliki kesalahan lebih besar dari ($17.5\%$) individu dengan karakter introvert ($33.59\%$ dan error $11.41\%$). Hal ini terjadi karena sebenarnya individu dengan karakter introvert itu tidak mengarahkan pada konsep kehati-hatian namun lebih kearah keragu-raguan. Hal itu didapatkan ketika setelah selesai eksperimen peneliti melakukan wawancara sederhana terkait proses dan cara menjawab tugas kognitif tadi. Pada subjek extrovert mereka mengaku tidak menghapal semua perintah yang muncul dalam eksperimen, namun hanya berusaha menghapal sebagian namun membaca secara keseluruhan. Mereka fokus hanya pada $1$ bagian, sehingga mereka tidak terbebani dengan banyaknya item yang harus diingat. Sebaliknya  pada individu dengan karakteristik introvert mereka menghapal semua instruksi yang muncul dengan seksama. Bagian mengingat tombol yang ditekan berkaitan dengan intruksi awal adalah bagian yang paling sulit dalam penelitian ini. Dari kesimpulan ini, cara individu dengan mayoritas kepribadian introvert memiliki kelebihan dalam mengatasi tantangan yang ditemui dengan tidak terlalu berorientasi pada hasil namun melakukan apa yang dirasa tepat dan sesuai pada saat itu juga (\textit{here and now}). Pada aspek budaya jelas bahwa spirit budaya kolektif berkorelasi dengan tipe kepribadian tertentu. Setelah dilakukan diskusi, beberapa tipe kepribadian introvert mengaku ketika mengalami problematika, satu hal yang pasti adalah mereka mencari dukungan kepada orang lain dan melakukan modeling, hal berbalik justru dialami oleh individu dengan mayoritas extrovert, dimana mereka memang melakukan modelling kepada orang lain namun ketika masalah sudah sangat berat dan kompleks.
\section{Kesimpulan}
\par
Beberapa konsep yang tidak terbukti dalam penelitian ini merupakan masalah yang harus diperbaiki dalam eksperimen serupa dimasa mendatang. Beberapa literatur menyarankan untuk lebih detail dalam assesmen termasuk membagi konsep kepribadian tidak hanya dengan skala namun juga melalui interview mendalam (\textit{in depth interview}). Sejauh ini penelitian diatas hanya menggunakan stimulus flanker, dimana menurut hemat peneliti bisa untuk dikembangkan kedalam test neurosains yang  lain.\\

\bibliographystyle{apacite}
\bibliography{PaperRef}
\end{document}

dan berikut ini adalah hasilnya. Bagaimana menurut anda bagus bukan??

Example

Daftar Artikel